Love. Life. Laugh

Love. Life. Laugh

Jumat, 04 Februari 2011

Broke Up


It’s over now..adalah kalimat yang tepat menggambarkan perasaan hatiku saat ini. Cukup sudah petualangan cintaku bersamanya, lelaki yang begitu sempurna menyayangiku selama beberapa bulan yang lalu. Kasih sayangnya telah berikan ku rasa nyaman dan bahagia yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Pernah mendengar orang-orang berkata, ada pertemuan ada pula perpisahan. Aku pernah bertemu dengan dia 10 tahun yang lalu, kemudian pisahkan saat lulus SMP. Tidak di sangka, aku di pertemukan dengan dia lagi untuk yang kedua kalinya di tahun 2010. Bukan sebuah kebetulan kita berdua di pertemukan kembali, karena dia memang telah lama mencariku selama 8 tahun lamanya. Hanya saja aku tidak menyadari bahwa dia mencariku selama ini. Kami di pertemukan di salah satu jejaring pertemanan yang sangat di gemari oleh semua kalangan di dunia. Dia menemukan ku lagi, di saat aku tak sendiri lagi.

Selama beberapa bulan terakhir, dia telah mampu buat aku membalas kasih sayangnya selama ini. Kasih sayang yang telah lama dia harapkan dariku, yang selama ini di tunggunya dari wanita yang telah lama berada dalam hatinya kini terwujud sudah. Berbagai hal lucu dan menyenangkan telah aku lalui bersamanya, walau kami terpisah oleh jarak yang begitu jauh. Namun, jarak tidak menjadi sebuah halangan bagi dia atau pun aku untuk berbagi kasih sayang. Bahkan, tidak jarang kami mengungkapkan perasaan rindu yang mendalam satu sama lain di karena kan rasa rindu itu begitu besar. Entah apa yang aku rasakan hingga aku merasa, aku telah kecanduan kasih sayangnya.

Semuanya terasa sangat indah ketika aku bersamanya, apa yang kami lakukan bersama menimbulkan derai tawa yang tiada henti. Kadang aku bertanya, kenapa dia mampu membuatku nyaman bersamanya. Bagai dalam sebuah ruang yang terisi dengan ranjang cinta nan empuk dan nyaman, dinding yang berwarna merah jambu, berhiaskan langit biru dengan kicauan burung yang merdu, berselimutkan kasih sayangnya begitu erat mendekap seluruh tubuhku hingga aku merasa ingin selamanya berada disitu seumur hidupku sampai akhir waktu. Lama aku terlelap di ranjang cintanya, menari, menyanyikan lagu cinta, dan memeluk erat selimut yang mampu buat aku terlelap di tiap dinginnya malam. Tiba saatnya aku melihat pemilik ruang itu merasa sakit yang luar biasa hebatnya, karena yang tidur di ranjang cintanya, yang bernyanyi lagu cinta untuknya, menari, dan tertawa di dalam ruang itu telah termiliki oleh yang lain. Seketika ruang yang indah itu berubah menjadi gelap, ranjangnya tidak empuk lagi, dindingnya berwarna kelabu, di hiasi langit gelap tanpa kicauan burung lagi, dan selimut kasih sayangnya tidak mampu memberi kehangatan lagi. Kali ini aku harus pergi dari ruang itu dan biarkan ruang itu menata perabotnya sendiri tanpa aku bantu, karena setiap menyentuh barang-barang di ruangan itu hanya membuat warnanya berubah menjadi abu-abu. Warna yang tidak dapat menjelaskan padaku, apa yang dia inginkan dariku.

Tersadar aku dalam kenyataan, aku telah ada yang memiliki dan tidak sepatutnya aku terlelap begitu lama dalam ruangan yang indah itu walau pernah aku menginginkan terus berada didalamnya. Bersamanya, aku merasa seperti diriku sendiri tanpa sebuah aturan dan rasa canggung. Bebas berekspresi, berkata, berfikir, bertindak, dan bergaul. Mengapa dia tercipta dan terbentuk seperti melengkapi diriku. Aku seperti telah menemukan pemilik tulang rusuk yang selama ini aku cari. Mengapa dia hadir ketika aku telah termiliki yang lain, mengapa dia mampu menenangkan aku ketika amarah tidak dapat ku kendalikan, mengapa dia mampu membuatku tertawa lepas tanpa beban, mengapa dia mampu buatku merindu, mengapa dia menyayangiku begitu sempurna, mengapa dia mencariku, dan mengapa dia menemukanku baru saat ini..?

Dia pernah bilang, kalau harapannya selama ini adalah bersama wanita yang selama ini ada dalam relung hatinya. Tetapi harapan itu tidak didapatnya, karena wanitanya telah bersama yang lain. Pernah mendengar seseorang mengatakan, bila suatu saat aku tidak dapatkan kekasih hatiku biar ku simpan rasa sayang ini untuknya dan akan ku bingkai hati ini sampai akhir hidupku, berharap dia akan kembali ku temukan saat itu pula aku serahkan hati dan sayang ini padanya dan tidak akan ku lepaskan dia untuk yang kesekian kalinya. Ketika seseorang yang kita harapkan tidak dapat di miliki, kita hanya bisa mendoakan dia agar bisa temukan bahagianya sendiri meskipun bahagia itu bukan dari kita.

Sulit ku mencari jalan untuk keluar dari pintu hati yang aku masuki, begitu banyak belokan, persimpangan, dan pintu-pintu pengecoh. Meninggalkan dia dari hidupku seperti menarik sebilah belati yang tertancap dalam ulu hatiku, bila di tarik keluar tajam belati semakin melukai aku dan ku rasakan pedih itu menggoreskan luka yang tak tahu kapan bisa pulih seperti semula. Dimana aku kan dapatkan sayang yang serupa dengan sayangnya, mungkin tidak akan ada lagi karena rasa sayang yang dia berikan merupakan rasa sayang terbentuk dalam kesempurnaan kasih selama 8 tahun lamanya.

Aku hanya ingin dia bahagia, karena bersamaku bukanlah jalan terbaik untuk menggapai bahagia yang di carinya. Namun, pernah ku dengar dia berbisik padaku begitu pelan dan penuh kasih bahwa aku tidak bisa tanpa kamu. Sebuah pernyataan yang aku anggap sebuah gombalan, tapi ketika dia berbisik padaku tentang hal itu entah mengapa jantungku berhenti berdetak seketika dan merasakan betapa dia membutuhkan aku hadir dalam hidupnya. Dia merindukan sosok aku disampingnya, berharap untuk terus bersama aku, temani aku di setiap hari, dia menyayangiku ya Tuhan…kenapa harus dia, kenapa baru saat ini kita di pertemukan, kenapa rasa ini tidak mampu ku berikan padanya sepenuhnya. Malam ini ku begitu merindunya, sangat amat merindukan dirinya. Tiap tetes air mata yang jatuh di pipiku malam ini adalah untuknya, mengingat setiap kata yang di ucapkan dia untukku yang begitu dia sayangi dan dia inginkan seumur hidupnya.

Teringat saat malam ketika dia telephone aku, bercanda dan berandai-andai apabila nanti kita berdua berjodoh dan menikah. Dia bertanya padaku tentang berapa banyak anak yang aku inginkan setelah kami menikah, aku pun menjawab kalau aku ingin punya 3 orang anak. Anak pertama laki-laki, anak ke-2 perempuan, dan anak ke-3 laki-laki lagi. Dengan antusias dia menjelaskan mengapa aku memilih 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, karena memiliki kakak dan adik laki-laki sangatlah aman dan akan menjaga saudara perempuannya. Tiba saatnya kami mencari nama untuk sang calon anak kelak walau hanya sebuah khayalan namun merupakan harapannya bersamaku. Kami sepakat untuk anak pertama, aku biarkan dia yang memilih nama untuk calon anak yang dengan yakin akan memberikan nama “auzil” , nama untuk anak kedua di percayakannya untuk ku menentukan yang ku beri nama “aisyah”, dan terakhir kami sepakat untuk mencari nama bersama untuk anak ke-3. Kami mencoba menggunakan nama nabi, tapi lucunya aku menyebut nama malaikat yang membuat kami tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut. Mencoba menggunakan nama rasio bintang, tapi aku sendiri tidak hafal rasio bintang. Tapi tiba-tiba, aku menyebut “banyu” yang artinya air atau penyejuk dan dia menyukainya, alhasil nama anak ke-3 kami adalah “banyu”. Sebuah harapan dan mimpi yang begitu indah dan sangat bahagia.

Harapan dan mimpi-mimpi kami kini hanyalah sebuah penyejuk yang dapat hilang ketika hawa panas datang menyapa kami, dan kenyataannya aku tidak bisa membuat harapan-harapan itu menjadi nyata di hidupnya. Kenapa ini semua terjadi begitu cepat dan sekejap saja, ini tidak adil untuk dirinya yang selama ini mencariku. Kadang aku mendengar dia mengeluh, “kenapa kita tidak di pertemukan 2 tahun yang lalu ketika kamu masih sendiri”. Seandainya aku bisa melihat masa depan, aku akan memilih menunggu dia menemukanku karena aku sadari menjadi kesayangannya begitu indah dan damai ku rasa. Saat ini, melupakannya adalah hal yang paling sulit untukku tidak mengerti apa yang membuat bayangnya selalu datang dimanapun aku berjalan. Seolah dia selalu hadir dalam tiap kesempatan untuk mengingatkan aku bahwa sampai kapanpun sayang yang dia jaga untuk ku tetap tidak berkurang sedikitpun dan selamanya akan seperti itu.

Malam ini, waktu tepat menunjukkan pukul 1 dini hari aku belum bisa memejamkan mata. Mengingat dia, sayangnya, tawanya, candanya, ciumannya, dan lembut tutur katanya. Malam ini begitu dingin, sepi, dan hampa ku rasakan. Aku merindukan dirinya, aku tidak benar-benar berdoa pada Tuhan untuk tidak mempertemukan kita berdua dan menjodohkan kami, aku tidak benar-benar ingin dia tinggalkan, aku tidak benar-benar ingin dia melupakan aku, dan dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tidak benar-benar ingin pergi tinggalkan dirinya. Biarlah sayang ku ini akan ku bingkai dengan indah dan ku pajang di sisi hati terdalam yang hanya Tuhan, aku dan dia yang tahu.

Aku selalu yakin bahwa semua akan indah pada waktunya, dan Tuhan tidak buta hingga tidak memberi kebahagian untuk tiap hambanya. Saat ini aku memilih pergi karena tak ingin menyakiti dan tersakiti oleh sayang ini, karena semua yang ku lakukan adalah salah bila terus mengikat tangannya dengan kawat berduri yang terus membuat dirinya luka terlalu dalam. Dini hari aku berdoa untuk mempertemukan aku lagi dengan dia sang pemilik ruang yang indah terisi dengan ranjang cinta nan empuk dan nyaman, dinding yang berwarna merah jambu, berhiaskan langit biru dengan kicauan burung yang merdu, dan berselimutkan kasih sayang. Aku akan tetap menanti waktu itu terulang kembali, dengan ruang dan waktu yang berbeda, di saat yang sangat tepat untuk wujudkan mimpi-mimpi dan harapan kami berdua. Tuhan, jagalah dia untukku, berikan dia bahagia selama aku jauh darinya, dan selama aku tidak berada di sampingnya. Aku yakin Engkau tahu yang terbaik untuk setiap hambamu, satu pinta ku Tuhan.. pertemukan kami lagi, di waktu yang tepat..aku ingin bahagiakan dirinya hingga akhir waktu.

(Inspiring from someone life’s experience who’s the name cannot mention, it’s not just story but it will be history in her life)

1 komentar:

  1. sabar . . smoga mendaptkan yg lebih baik . . :) you deserve someone better than him :)

    BalasHapus